Zombie disekitar kita

Kemarin malam setelah saya dan istri pulang dari merawat seorang pasien yang memiliki luka dikakinya, saya dan istri berbicara mengenai kondisi pandemi covid 19 sambil mengendarai sepeda motor. saya sampaikan kepada istri betapa sedikitnya orang-orang  dijalanan alias diluar rumah yang menggunakan masker untuk beraktifitas, padahal saat ini pandemi masih melanda seluruh dunia tak ketingggalan kota tercintaku ini pun juga ikut 'disengat' olehnya. mulai dari penjual gorengan, tukang parkir, penjual mie ayam, pengendara sepeda motor lainnya dan banyak orang lainnya justru terlihat lebih banyak yang tidak menggunakan masker kataku kepada istri.  mereka seolah tidak takut atau tidak percaya akan adanya bahaya besar yang ada disekitar mereka. bahkan seolah mereka jauh lebih takut tidak kebagian buah durian lezat yang dijajakan di pinggir daripada memiliki masker yang membosankan untuk dipakai tiap hari. 

Kusampaikan pada istri bahwasanya mereka semua itu yang berani keluar rumah tanpa masker dalam masa pandemi adalah bagaikan zombie yang berkeliaran, menyebarkan banyak virus-virus berbahaya kembali setelah mendapatkannya dari entah siapa saja. bagaikan zombie si mayat hidup, mereka seolah tanpa pikiran bahwa corona ini sudah banyak memakan korban yang tidak hanya ada di Jakarta atau kota besar lainnnya pada masa awal-awal pandemi. didaerahku ini sendiri virus mematikan ini sudah banyak memakan korban jiwa, setiap hari ada yang meninggal karena makhluk tak kasat mata ini. per 25 Juli 2021 ini kota idaman ini sudah ditetapkan statusnya masuk pada level 3 alias sudah mulai gawat mendekati darurat. semua orang sebenarnya sudah mendapatkan larangan untuk banyak beraktifitas diluar rumah, apalagi jika mendekati pukul 10 malam maka toko-toko, cafe, rumah makan dan usaha lainnya diminta untuk menutup usahanya  untuk mengurangi penyebaran virus tersebut

Para 'Zombie" didaerahku ini memang bisa jadi merasa masih kuat atau sehat fisiknya, tapi mereka tidak dapat membayangkan bagaimana jika suatu saat tubuh mereka sedang lemah dan diserang virus tersebut, maka mereka pun bisa ngedrop alias tumbang kesehatannya, lalu mereka bertemu dengan sanak keluarga yang ada dirumah, bertemu tetangga dan lainnya yang mungkin saja sudah memiliki riwayat penyakit lainnya seperti darah tinggi, kolesterol, jantung, dan lainnya atau istilahnya 'komorbid', maka setiap orang yang mereka temui terlebih tidak menggunakan masker dan menjaga jarak niscaya akan tertular penderitaan yang sama, tapi efeknya bagi mereka bisa lebih parah dan mematikan jiwa.

Pernah ada seorang pasien di rumah sakit dikotaku ini dinyatakan positif covid 19 setelah dilakukan pemeriksaan SWAB dari rumah sakit, lalu tak lama kemudian meninggal dunia di rumah sakit, pihak keluarga tidak terima dengan hasil diagnosis tersebut karena merasa keluarga mereka itu meninggal bukan karena virus itu melainkan memang sudah lama sakit stroke dan terbaring terus. mereka marah-marah datang ke IGD (Istalasi Gawat Darurat) secara beramai-ramai dengan membawa kenalannya dari organisasi kepemudaan agar pihak rumah sakit mengganti pernyataan bahwasanya anggota keluarga mereka terkena covid itu tidak benar. mereka memukul-mukul meja, memarahi perawat dan dokter, bahkan Satpam yang menjaga keamanan pun tak luput dari 'amukan' mereka. mereka meminta jenazah pasien tersebut dapat mereka bawa pulang dan tidak bersedia dikuburkan dengan menggunakan protokol kesehatan, padahal berdasarkan peraturan menteri kesehatan, setiap pasien covid 19 yang sudah meninggal dunia wajib dikuburkan dengan mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penularan yang lebih besar. keluarga jenazah tersebut hanya akan bisa melihat dari kejauhan dari lokasi liang lahat, dan berlangsung secara cepat dan sangat ketat.

Mereka menolak keluarganya dinyatakan covid karena mereka merasa mereka sendiri yang merawat pasien tersebut selama ini sehat-sehat saja, padahal yang tidak mereka sadari bahwasanya bisa jadi mereka sendirilah yang membawa virus itu dan menjadi zombie yang menularkannya kepada pasien yang lemah dan memiliki riwayat penyakit itu. mereka tidak bisa menjadikan acuan bahwa diri mereka sehat maka keluarga mereka pasti sehat, karena daya tahan tubuh tiap orang berbeda-beda imun tubuhnya. mereka harus memastikan semua itu dengan penelitian di laboratorium melalui SWAB atau rapid antigen untuk memastikan keabsahan kondisi mereka masih sehat atau sesungguhnya malah sedang menjadi 'gudang virus'.

Jadi apakah kita masih mau keluar rumah dengan tidak menggunakan masker, tidak menjaga jarak, tidak mencuci tangan?? kita semua berpotensi terpapar virus ini jadi menjadi pembawa virus atau zombie bagi keluarga, tetangga dan rekan kerja, dan apabila mereka yang terpapar oleh kita akhirnya meninggal dunia karena fisiknya tak kuasa melawan virus ini bukankah lebih tepatnya kita juga dinamakan 'pembunuh?' iya pembunuh tak berdarah, sama mengerikannya dengan pembunuh dalam arti sebenarnya. mari patuhi protokol kesehatan, jangan mau jadi Zombie.

Komentar